Gunung Awu di ujung utara Pulau Sangihe tercatat sebagai salah satu gunung api paling mematikan di dunia. Arsip The Straits Times dan kantor berita Reuters menunjukkan bagaimana letusan-letusannya diberitakan ke dunia luar, dari kabar keliru pada 1892, laporan yang terlambat berhari-hari pada 1966, hingga liputan nyaris seketika pada 2004.
Sejak 1640, Awu telah meletus 18 kali, termasuk dua letusan berskala VEI 4 pada 1812 dan 1966. Dalam basis data korban letusan gunung api, Awu tercatat menelan 963 jiwa pada letusan 1812, 2.806 jiwa pada 1856, dan 1.532 jiwa pada 1892, ditambah 2.508 korban letusan 1711 yang tidak masuk basis data tersebut. Secara kumulatif sejak 1711, kajian yang sama menghitung 11.048 korban jiwa, sebagian besar akibat lahar.

1892: Kabar Pulau Lenyap yang Ternyata Keliru
Letusan 7 Juni 1892 pertama kali sampai ke Singapura melalui awak kapal. The Straits Times edisi 25 Juni 1892 memuat kabar dari sebuah kapal uap Inggris tentang letusan di Gunung Awu, Kepulauan Sangir, pada tanggal 7 bulan itu. Letusan tersebut juga memicu tsunami.
Pertengahan Juli, sebuah telegram Reuter dari Sydney menyebarkan kabar bahwa Pulau Sangir hancur dan seluruh penduduknya, sekitar 12.000 jiwa, tewas. Kabar itu dikoreksi dua pekan kemudian. The Spectator edisi 30 Juli 1892 menyebut laporan tersebut berlebihan; korban langsung diperkirakan sekitar dua ribu orang, dengan korban terbanyak dari warga di lereng gunung.
Kesaksian lapangan datang dari kapten kapal Hecuba yang disewa pemerintah Belanda untuk mencari lokasi letusan dan menyalurkan bantuan. Ia mendapati pulau itu terkubur abu, rumah-rumah di pelabuhan Tarona sedang digali, pohon kelapa hancur, dan warga kekurangan makanan sehingga ia menurunkan beras di sepanjang pantai.
1966: Kabar Tiba Lima Hari Kemudian
Letusan 12 Agustus 1966 melontarkan kubah lava dan danau kawah, dengan awan panas meluncur rata-rata 5 kilometer ke segala sisi gunung. Danau kawah yang pada 1922 berukuran lebar 1 kilometer dan dalam 172 meter itu sebagian besar terlempar keluar.
Berita pertama baru dimuat The Straits Times pada 17 Agustus 1966 lewat laporan singkat Reuters dari Jakarta, yang menyebut letusan menebar teror bagi warga Tahuna dan belum ada laporan korban. Edisi 23 Agustus melaporkan 15 orang tewas dan lebih dari 1.100 orang luka. Pada 31 Agustus, harian itu mencatat sekitar 38 orang tewas, 60 anak sekolah hilang, 2.000 orang luka parah, dan 40.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Data vulkanologi resmi menetapkan 39 korban jiwa dan lebih dari 1.000 orang terluka, banyak di antaranya tertimpa pecahan kubah lava, dengan sekitar 11.000 warga dievakuasi. Aktivitas berlanjut dengan tiga letusan kecil pada Oktober 1966.
2004: Evakuasi Dini, Nihil Korban
Pada Minggu, 6 Juni 2004, Direktorat Vulkanologi menaikkan status Awu ke level tertinggi dan memerintahkan evakuasi di Kecamatan Tahuna, Kendahe, dan Tabukan Utara. Sasaran evakuasi sekitar 27.000 jiwa: 12.065 dari Tahuna, 5.690 dari Kendahe, dan 9.248 dari Tabukan Utara. Hingga 8 Juni, 17.326 orang telah mengungsi ke gedung pemerintah, sekolah, dan rumah ibadah.

Reuters melaporkan Awu meletus pada Selasa, 8 Juni, dengan rangkaian ledakan kecil yang disusul semburan abu panas setinggi 2.000 meter. Harian Singapura Today edisi 9 Juni 2004 memuat laporan Reuters bahwa hingga 20.000 orang telah dievakuasi.
Letusan terbesar terjadi pada 10 Juni dengan kolom abu sekitar 3.000 meter. Menurut vulkanolog Agus Solihin, tidak ada korban luka karena sebagian besar warga di zona bahaya telah mengungsi. Pada 13 Juni, status diturunkan dan sebagian besar pengungsi diizinkan pulang. Letusan ini meninggalkan kubah lava berdiameter sekitar 370 meter dan tinggi sekitar 30 meter.

Status Terkini
Badan Geologi menaikkan status Awu ke Level III (Siaga) pada 11 Mei 2022. Tahun ini, pemantauan 4 Mei 2026 mencatat 74 gempa vulkanik dangkal dalam sehari, dengan status Level II dan larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah.
Catatan pers dari tiga zaman itu menunjukkan satu pola: korban jiwa turun drastis ketika warga sempat diungsikan sebelum letusan puncak.
Sumber: NewspaperSG: The Straits Times, 17 Agustus 1966, NewspaperSG: The Straits Times, 23 Agustus 1966, NewspaperSG: The Straits Times, 31 Agustus 1966, NewspaperSG: The Straits Times, 25 Juni 1892, NewspaperSG: Today, 9 Juni 2004, NHESS 2020: Bani dkk., Global Volcanism Program: Awu, Nature 1892: The Reported Volcanic Eruption at Great Sangir, Nature 1892: The Eruption at Sangir, The Spectator, 30 Juli 1892, OCHA Situation Report No. 1, 2004, Geotimes, Juni 2004, ReliefWeb/dpa, 10 Juni 2004, Volcano Live: Awu, Tempo, Mei 2022, RRI, Mei 2026




