Simpan

Kelana Tak Bersejarah dari Tanah Sangihe

Rendy Saselah
Rendy Saselah
Founder Sangirees.com adalah jurnalis yang menekuni sastra dan memiliki perhatian terhadap budaya lokal.

Jejak L.K. Bohang, mentor yang sunyi bagi Chairil Anwar

Suatu malam di Jakarta, awal 1940-an, Chairil Anwar mendesak seorang kawannya. Ia sudah lama membaca tulisan-tulisan bernama samaran perempuan, Airani Molito, dan ia yakin tahu siapa penulisnya.

“Siapa sebenarnya kau, Penyair?”

Lelaki itu menolak disebut penyair. Katanya, belum ada karyanya yang pantas. Chairil tidak menyerah dan bertanya sekali lagi. Jawaban yang ia dapat kemudian ia simpan sampai menjadi puisi.

“Aku? Aku ini hanya seorang kelana tak bersejarah, Kawan.”

Lelaki itu bernama Laurens Koster Bohang. Ia putra Kepulauan Sangihe dan pernah duduk di jantung kesusastraan Indonesia modern. Delapan puluh tahun setelah kematiannya, namanya nyaris hilang, bahkan di tanah kelahirannya sendiri.

Anak Nagha

L.K. Bohang lahir pada 1913 di Kampung Nagha, kini masuk Kecamatan Tamako, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kampung itu menghadap laut yang berbatasan langsung dengan Filipina. Ia sulung dari tujuh bersaudara keluarga Bohang dan Baramuli.

Selepas sekolah dasar, Bohang muda merantau ke Makassar dengan menumpang kapal kargo yang dinakhodai pamannya. Marthin Clorus Bohang (71), keponakannya yang pernah menjabat Kepala Desa Nagha, masih ingat cerita ayahnya, Beltsazar Bohang. Di Makassar, kata Marthin, pamannya ditempa menjadi pribadi yang tangguh. Ada pula kisah yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga: Bohang bersama Beltsazar pernah ditahan pemerintah kolonial di Nusa Kambangan karena dituduh pengikut Soekarno.

Pendidikan terakhirnya di AMS-B Batavia, sekolah menengah berbahasa Belanda. Bahasa Belandanya fasih, sampai-sampai ia justru canggung berbahasa Indonesia. Baru pada 1941, setelah bergabung dengan Balai Pustaka dan mengenal lingkaran Pujangga Baru, ia mendalami bahasa Indonesia hingga mahir.

Keluarganya di Nagha tidak tahu banyak. Mereka hanya tahu Bohang tidak pernah menikah dan meninggal muda. Sisanya tersimpan di arsip-arsip Jakarta yang jarang dibuka orang Sangihe.

Di Ruang Redaksi Pujangga Baru

Bohang masuk ke dunia yang sedang membentuk wajah sastra Indonesia. Di Balai Pustaka dan Radio NIROM ia bekerja bersama Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Sanusi Pane. Di sana pula ia bertemu H.B. Jassin, yang kelak dijuluki Paus Sastra Indonesia. Bohang kemudian menjadi staf redaksi majalah Poedjangga Baroe.

Ia jarang tampil. Tulisannya sedikit, kebanyakan memakai nama Airani atau Airani Molito. Airani berarti bunga kecil, sedangkan molito dalam bahasa Gorontalo berarti pemalu. Nama samaran itu sangat cocok dengan pembawaannya. Penyair O’Galelano pada 1960 menggambarkannya sebagai lelaki pendiam bersuara lembut yang justru disegani karena ketenangannya. Ia pemuda Kristen yang tekun mempelajari teosofi, dan kasih sayang menjadi dasar seluruh pemikirannya.

Pengaruhnya tidak terlihat di daftar terbitan, tetapi di diri orang-orang di sekitarnya. Dalam sebuah surat kepada Amal Hamzah, adik Amir Hamzah, Jassin membela sikap hidupnya yang dianggap kurang tegas. Ia menyebut sikap itu kesabaran, atau sintesis, “dan inilah pula yang kalau saya tidak salah dalam kamus L.K. Bohang, kawan, guru kita itu, disebutnya keindahan.”

Guru kita itu. Majalah Tempo pada 2016 memberi judul yang tepat untuk sosoknya: “Berguru kepada Mentor dari Timur.”

Ketika Jepang datang dan Pujangga Baru dilarang terbit, Bohang tidak bubar bersama majalahnya. Menurut Amal Hamzah, ia terus mengurus administrasi Pujangga Baru dari sebuah rumah di Gang Kesehatan VII/3. Ia yakin suatu hari para seniman akan membutuhkan rumah itu lagi. Kepada kawan-kawan mudanya yang marah pada keadaan, ia berpesan agar bersabar. Ia bahkan meminta mereka mengasihani para “seniman” yang menjilat Dai Nippon. Baginya, masa Jepang adalah batu ujian, tempat akan terlihat mana emas dan mana loyang para pemimpin dan seniman.

Setangkai Melati untuk Tanah Air

Karyanya yang paling dikenal, Setangkai Kembang Melati, ditulis di masa awal pendudukan Jepang. Jassin memuatnya di urutan ketiga dalam bunga rampai Gema Tanah Air dan memujinya karena kehalusan perasaan serta keindahan imajinasinya.

Bentuknya surat kepada seorang kawan. Isinya perjalanan sejarah yang diceritakan oleh setangkai melati. Bunga itu bercerita tentang nenek moyang yang datang dari Hindia Belakang, pembangunan Borobudur, masuknya Islam, dan kapal-kapal Portugis. Ia juga bercerita tentang penjajah Belanda yang datang “memeras Indonesia yang kaya raya” seperti lintah darat. Di bagian akhir, melati itu meminta dipetik dan disematkan “di atas dadamu yang kiri, supaya dekat di jantung hatimu yang senantiasa hasratkan kemerdekaan tanah airmu.”

Pesannya tegas: bangsa yang melupakan sejarahnya akan kehilangan topangan hidup. “Sesaat pun jangan terlepas dari ingatan kamu,” tulisnya, “sebab apabila kamu tidak terkenangkan kami, maka dengan demikian putuslah rantai sejarah Indonesia.”

Melati itu juga berakar di Sangihe. Dalam bahasa Sangihe, melati disebut manuru. Budayawan Jupiter Makasangkil mencatat ungkapan seperti nurumalang (wangi melati) dan wuramanuru (melati kesayangan) yang dipakai dalam sastra peminangan. Sesepuh adat Niklas Mahare menjelaskan bahwa melati menjadi bagian air pembasuh dalam ritual Menahulending saat Tulude, dan bunga itu ditanam di dekat mata air. Seorang anak pesisir dari Nagha membawa bunga sakral kampungnya ke Jakarta, lalu menjadikannya lambang Indonesia.

Selain itu, Bohang menulis telaah tajam atas puisi Amir Hamzah dalam Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi. Ia membaca puisi-puisi itu sebagai perjalanan batin yang bermula dari kerinduan, melewati kesunyian, dan berakhir dalam sujud kepada Tuhan.

Kawanku dan Aku

Chairil Anwar, yang saat itu masih mencari bentuk kepenyairannya, cepat masuk ke lingkaran Bohang. Hubungan yang berawal di ruang redaksi berkembang menjadi persahabatan yang erat. Mereka sering berjalan berdua sampai larut malam sambil berdebat soal hidup dan mati.

Pada 5 Juni 1943, Chairil menulis “Kawanku dan Aku” untuk Bohang. Isinya dua orang berjalan menembus kabut dan hujan, sementara sang kawan tinggal “rangka saja”. Kesehatan Bohang memang mulai menurun.

Bohang meninggal pada 14 Februari 1945 di Rumah Sakit Umum Negeri Jakarta, kini RSCM. Usianya baru 32 tahun. Menurut O’Galelano, ia dibawa ke sana dari rumah Sutan Takdir Alisjahbana. Catatan terakhirnya ditulis tergesa-gesa dengan pensil. Enam bulan kemudian, Merah Putih berkibar di Pegangsaan Timur.

Chairil menulis “Kepada Penyair Bohang” dan memakai lagi kata-kata dari percakapan mereka dahulu: “Kelana tidak bersejarah / Berjalan kau terus!” Amal Hamzah menulis surat perpisahan: “Badanmu betul telah dikuburkan orang, tetapi jiwamu tetap berada di dunia ini, berada dalam tulisan-tulisanmu yang engkau tinggalkan.”

Sayangnya, tulisan-tulisan itu pun tidak terurus. Barang-barang Bohang tercecer setelah ia wafat, dan banyak karyanya ikut hilang dari sejarah sastra Indonesia.

Pulang ke Ingatan

Sangihe sudah lama bangga pada J.E. Tatengkeng, penyair Pujangga Baru yang membawa bahasa Sangihe ke panggung nasional lewat “Panggilan Minggu Pagi”. Bohang tumbuh dari akar yang sama, yaitu tradisi Sasambo, Sasahara, dan sastra tutur yang dilantunkan dalam Tulude. Bedanya, nama Bohang tidak pernah benar-benar pulang ke kampungnya.

Ia sendiri tampaknya tidak pernah meminta dikenang. Ia lebih suka bekerja dari belakang layar, menulis untuk segelintir kawan yang ia pilih, dan menyebut dirinya kelana tak bersejarah. Namun di setiap halaman yang ditinggalkannya, Bohang mengulang pesan yang sama: bangsa yang lupa pada sejarahnya akan tercerabut dari tanah airnya.

Mengingat L.K. Bohang hari ini berarti menjalankan pesannya sendiri. Kelana itu ternyata punya sejarah, dan sejarahnya dimulai di Nagha.

Baca Artikel Lainnya

Konten Sangirees

Orang Sangihe

Kisah manusia Sangihe, pengalaman, perjuangan, identitas, prestasi dan perubahan

Lihat

Jejak Leluhur

Merekam sejarah, ingatan, tradisi, dan menerbitkan karya sastra Sangihe

Lihat

Berang Sangihe

Ruang berbahasa Sangihe untuk merawat Bahasa, cerita, dan cara pandang masyarakat.

Lihat

Catatan Perbatasan

Opini, gagasan dan refleksi tentang Sangihe untuk Indonesia

Lihat

Terpopuler

Orang Sangihe

Anyaman Bambu dari Para Dotu: Jejak Panjang Seke-Maneke di Kepulauan Sangihe

7
minutes read
Berang Sangihe

Tatahulending

1
minute read
Budaya

Alabadiri: Jejak Halberd Eropa, Dari Ternate Hingga Istana Tabukan

4
minutes read
Sejarah

Kisah Keluarga dr. Cseszko Menyelamatkan Rakyat Sangihe, Berakhir Tragis di Tangan...

4
minutes read