Fajar belum sepenuhnya pecah di ufuk timur ketika Kampung Para Lelle mulai riuh, Senin (17/6/2024). Teriakan bersahutan dari rumah ke rumah. Itu bukan panggilan biasa, melainkan ajakan untuk turun ke laut dan mengikuti Maneke, ritual menangkap ikan secara tradisional yang telah lama tertidur.
Warga berkumpul di tepi pantai menyambut matahari yang perlahan naik di cakrawala. Di kejauhan, puluhan orang bersiap bersama dua perahu kengkang yang memuat Seke, alat tangkap yang dirakit dari bambu, ijuk, kayu nibong, dan janur kelapa. Dengan kayuhan dayung yang seirama, para nelayan dari kelompok Seke Malekaheng bergerak ke tengah laut. Rangkaian bambu itu direntangkan, lalu mereka bekerja sama menggiring ikan ke arah pantai.
Beberapa jam kemudian, kerja itu berbuah. Ribuan ikan tergiring ke bibir pantai, dan sorak warga pecah di sepanjang pesisir.
Pagi itu menandai kembalinya tradisi yang lebih dari dua dekade menghilang. Lima tahun sebelumnya, keadaannya jauh berbeda. Ketika tim liputan menyambangi Pulau Para pada Kamis (12/12/2019), Seke nyaris hanya tersisa dalam ingatan para tetua kampung. Tak seorang pun yang ditemui saat itu berani memastikan kapan, atau apakah, Seke akan kembali ke laut.
Negeri Bahari di Ujung Utara
Di ujung paling utara Provinsi Sulawesi Utara terbentang gugusan pulau kecil yang menyimpan kekayaan tradisi dan kebudayaan. Lautnya jernih, terumbu karangnya berwarna-warni, dan biotanya melimpah. Kawasan ini dikenal sebagai negeri bahari yang hidup dari laut sekaligus bersama laut.
Orang-orang Eropa dahulu menyebut gugusan ini Noorder Eilanden. Kini ia dikenal sebagai Nusa Utara, kawasan kepulauan yang meliputi Sangihe dan Talaud. Di sinilah kehidupan masyarakat tumbuh berdampingan dengan laut, membentuk identitas budaya yang khas sekaligus memperkaya mozaik kebudayaan Nusantara.
Secara administratif, kawasan itu terbagi menjadi tiga kabupaten: Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, serta Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Di antara pulau-pulau yang tersebar di sana, Pulau Para di Kecamatan Tatoareng menyimpan satu tradisi bahari yang unik, yakni Seke-Maneke, cara menangkap ikan dengan alat tangkap tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Kampung Para berada dalam satu gugusan pulau di Kecamatan Tatoareng, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Di utara ia berbatasan dengan Kampung Para I, di timur dengan Laut Maluku, di selatan dengan wilayah Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, dan di barat dengan Laut Sulawesi.
Anyaman Bambu Warisan Para Dotu
Seke dibuat dari bulu tui atau bambu kuning kecil, gomutu atau ijuk, kayu nibong (batang nira), serta janur kelapa. Bambu halus berdiameter dua hingga tiga sentimeter dipotong sepanjang setengah depa, sekitar 80 hingga 90 sentimeter, lalu dianyam menjadi perangkap ikan.
Bagi masyarakat Pulau Para, Seke bukan sekadar alat tangkap. Ia adalah tradisi yang telah hidup berabad-abad. Menurut catatan yang beredar di pulau itu, Seke pertama kali dibuat oleh dua dotu atau leluhur, Dolongpaha dan Takapaha. Keduanya meminang dua gadis dari Kampung Paseng di Pulau Siau. Setelah memiliki keturunan, mereka menciptakan alat tangkap yang kemudian dikenal sebagai Seke.
Albertus Sakendatu, warga setempat yang berusia 66 tahun saat diwawancarai pada Desember 2019, memperkirakan tradisi ini dimulai sekitar tahun 1713. Hingga 1924, Pulau Para telah memiliki enam organisasi Seke: Seke Champiun, Seke Lumairo, Seke Lembo, Seke Lembe, Seke Rame, dan Seke Balaba.
Albertus adalah seorang Tonaseng, pemimpin dalam kegiatan Maneke. Jabatan itu menuntutnya memahami laut secara utuh: mengenali watak ikan, membaca pusaran arus, dan menentukan waktu yang tepat untuk menebar Seke.
“Syarat orang diangkat menjadi Tonaseng adalah dia mengetahui hal-hal seputar Seke, mulai dari bisa membuat Seke sampai kemampuannya tentang laut. Ada juga yang turun-temurun. Sebab Tonaseng punya tugas utama ketika Maneke, seperti memberi komando dan mengatur posisi Seke. Jadi dia harus tahu melihat arus. Jangan sembarang melepas Seke,” ujarnya.
Elengkey Nesar, yang sekitar 15 tahun duduk di pemerintahan Desa Para, menuturkan hal teknis lainnya saat ditemui pada kesempatan yang sama di 2019. Menurutnya, Seke biasanya ditanam pada kedalaman 10 hingga 15 meter dan khusus digunakan untuk menangkap ikan malalugis.
“Alat ini ditanam sore sekitar jam enam, atau pagi sekitar jam lima. Karena bayangan alat ini sampai ke permukaan air, ikan malalugis enggan naik ke atas. Ikan ini juga takut terhadap daun kelapa,” jelasnya.
Lebih dari Sekadar Hasil Tangkapan
Maneke memiliki struktur kerja yang tertata. Tonaseng memimpin kelompok. Matobo menyelam untuk mengamati pergerakan ikan. Mandor membagi hasil tangkapan. Mata-mata memantau orang-orang yang terlibat di lokasi. Penasihat, biasanya mantan Tonaseng, memberi pertimbangan.
Namun bagi warga Pulau Para, nilai terbesar tradisi ini tidak terletak pada tekniknya, melainkan pada kebersamaan yang tumbuh di dalamnya. Seke-Maneke menjadi ruang sosial tempat kerukunan dan solidaritas dirawat.
Albertus masih ingat masa ketika hasil Seke begitu melimpah. “Kalau jumlah ikan seperti dulu, hasil Seke bisa sampai lima perahu, sekitar sepuluh ton ikan malalugis. Pembagiannya setiap hari dari Senin sampai Sabtu. Kalau hasil banyak dibagi perorangan, kalau sedikit dibagi per kepala keluarga. Bahkan anak kecil yang ikut Maneke juga dapat bagian,” katanya.
Elengkey menekankan hal serupa. Seke, menurutnya, tidak hanya menghidupi nelayan, tetapi juga merekatkan seluruh kampung. “Bayangkan, semua, mulai dari kepala desa, guru, pendatang, sampai bidan kampung, mendapat bagian walaupun tidak ikut mencari ikan,” ujarnya.
Ketika Seke mulai ditinggalkan, nilai-nilai itu ikut memudar. Tarsan Effendi Barauntu, Sekretaris Desa Para yang berusia 52 tahun saat diwawancarai pada 2019, mengakui kebiasaan berbagi tangkapan kala itu sudah jarang terlihat. “Sekarang memang sudah jarang ada tradisi membagi-bagikan ikan seperti dulu, mungkin karena Seke ini sudah mati,” katanya.
Seke juga menyimpan kesadaran ekologis yang kuat. Alat ini tergolong ramah lingkungan karena tidak merusak terumbu karang. Selama menjadi Tonaseng, Albertus mengenal aturan tidak tertulis untuk tidak mengangkat karang di lokasi Maneke.
“Seke tidak merusak karang karena dia hanya di permukaan. Justru dengan Maneke, karang bisa terjaga. Ikan yang diambil juga hanya malalugis. Dulu tidak boleh mengangkat karang di lokasi Seke,” katanya.
Ada pula masa jeda enam bulan agar ikan sempat berkembang biak. “Di Sanggaluhang dulu kami hanya enam bulan mencari ikan. Enam bulan berikutnya masa konservasi. Bulan September harus pulang,” ujarnya.
Ingatan yang sama dimiliki John A. Hatinaung, yang berusia 49 tahun saat ditemui pada 2019. Semasa remaja, ia menyaksikan langsung Seke-Maneke. “Dulu waktu masih zaman Seke, kami punya masa panen enam bulan dan enam bulan sisanya masa konservasi. Untuk kelestarian karang, Seke jauh lebih baik dibanding alat tangkap jaring sekarang,” katanya.
Luka Sanggaluhang
Dalam ingatan warga, Seke mulai ditinggalkan sekitar 1999 hingga 2000, lalu benar-benar berhenti sekitar 2003. Titik baliknya adalah konflik antara warga Pulau Mahengetang dan Pulau Para dalam memperebutkan lokasi tangkapan di kawasan Sanggaluhang.
Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam. Lima warga dan seorang anak dilaporkan tewas.
Pemerintah kemudian menerbitkan Surat Keputusan Bupati Nomor 65 yang membagi waktu penangkapan di Sanggaluhang: tiga bulan untuk Pulau Para, tiga bulan untuk Pulau Mahengetang, dan enam bulan sisanya sebagai masa konservasi.
Hingga 2019, warga Para masih menilai keputusan itu tidak sepenuhnya adil. “Di SK 65 itu Para rugi besar, karena sebenarnya wilayah Sanggaluhang masuk wilayah Para,” kata Elengkey.
Sejak konflik itu, Seke-Maneke perlahan lenyap. Peralatan rusak, sementara para perajin yang mampu menganyam Seke kian menua.
Antara Ritual dan Alat Produksi
Richard Hamel, yang pada 2019 menjabat Pejabat Sementara Kepala Desa Para, mengatakan upaya menghidupkan kembali tradisi ini pernah direncanakan. Sebuah penelitian dari Kementerian Kelautan bahkan menyatakan kesediaan membantu pembiayaan. Namun hingga wawancara itu berlangsung, rencana tersebut belum terwujud.
“Kalau cuma dipakai sebagai ikon budaya atau festival mungkin masih bisa. Tapi kalau dilaksanakan seperti dulu, itu melibatkan masyarakat banyak dan butuh biaya besar,” kata Hamel.
Satu kali Maneke, jelasnya, membutuhkan dua armada besar untuk memuat Seke serta belasan perahu kecil yang disebut londe. “Harga satu perahu londe saja sekarang sudah sekitar lima sampai enam juta rupiah,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Profesor Frans G. Ijong, pakar perikanan Sulawesi Utara, saat diwawancarai pada 2019. Ia memandang Seke sebagai bukti kecerdasan masyarakat Sangihe dalam mengembangkan teknologi tangkap yang efektif sekaligus ramah lingkungan. “Prinsip Seke hampir sama dengan jaring yang digunakan hari ini. Bedanya, dulu orang Sangihe belum punya teknologi membuat benang jaring, sehingga mereka menganyam bambu,” katanya.
Seke, lanjutnya, hanya efektif untuk ikan pelagis seperti malalugis atau tude, sehingga memang tidak dipakai di kawasan terumbu karang. Namun perkembangan teknologi penangkapan membuatnya sulit bertahan sebagai alat produksi. “Kalau hari ini Seke masih ada, itu lebih sebagai ritual budaya untuk mengingat kreativitas orang Sangihe di masa lalu,” ujarnya.
Pulang ke Laut
Lima tahun berselang, keraguan itu terjawab di pesisir Para Lelle. Seke yang pada 2019 disebut telah mati, kembali direntangkan di laut. Penjabat Bupati Kepulauan Sangihe, Albert Huppy Wounde, yang hadir menyaksikan Maneke pada 17 Juni 2024, mengaku kagum.
“Saya sangat mengapresiasi kebersamaan masyarakat Para Lelle dalam melakukan tradisi Maneke. Luar biasa melihat ribuan ikan diarahkan ke pantai hanya dengan alat tradisional,” katanya.
Baginya, Maneke mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur kepada alam. “Ini harus dilestarikan. Jangan sampai punah,” ujarnya.
Bagi warga Para Lelle, Maneke bukan sekadar kenangan. Ia adalah penanda identitas yang diwariskan lintas generasi. Di tengah modernisasi yang terus bergerak, kembalinya Seke ke laut menjadi pengingat bahwa kearifan lokal dan hubungan manusia dengan alam masih punya tempat dalam kehidupan hari ini.

