Simpan

Dijual 900 Gulden: Kisah Penyelamatan Empat Anak dr. Cseszko dari Cengkeraman Jepang di Sangihe

Rendy Saselah
Rendy Saselah
Founder Sangirees.com adalah jurnalis yang menekuni sastra dan memiliki perhatian terhadap budaya lokal.

Empat anak berkebangsaan Hongaria itu tiba di markas darurat pasukan Sekutu dalam keadaan kurus, penuh luka, dan gemetar ketakutan. Si sulung, Emma, menderita disentri akut dan berkali-kali pingsan setiap kali mencoba berdiri. Setahun sebelumnya, ibu mereka disiksa hingga dieksekusi oleh polisi militer Jepang di Tahuna. Mereka sendiri kemudian dijual kepada seorang raja boneka seharga 900 gulden.

Kisah penyelamatan Emma, Eva, Djoela, dan Joseph Cseszko ini dimuat dalam surat kabar The Straits Times edisi 21 Agustus 1947. Laporan tersebut dituturkan langsung oleh Richard Knox Hardwick, pengusaha perkebunan veteran di Kalimantan Utara yang selama perang bekerja untuk dinas intelijen Amerika, Belanda, dan Inggris. Ia terlibat dalam operasi pengintaian Services Reconnaissance Detachment (SRD), bagian dari Z Special Unit yang bermarkas di Morotai.

Keluarga Dokter yang Dicurigai

Hardwick pertama kali mendengar nasib keluarga ini saat bertugas bersama pasukan Belanda. Sejumlah penduduk Sangihe yang melarikan diri dari Tahuna membawa kabar tentang dr. Cseszko, istrinya, dan keempat anak mereka.

Keluarga Cseszko bekerja di rumah sakit zending dan sangat dihormati masyarakat setempat. Keadaan berubah ketika tentara Jepang mencurigai ada alat pemancar radio di rumah mereka.

Pada Maret 1944, dr. Cseszko ditangkap dan dibawa ke Manado, meninggalkan istri dan anak-anaknya di Tahuna. Beberapa bulan kemudian, pada Agustus 1944, sang istri menjadi korban fitnah dan ditangkap Kempetai. Menurut laporan Hardwick, ia disiksa selama berbulan-bulan: dipukuli, tidak diberi air, dan diperlakukan secara brutal, tanpa pernah ada bukti atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Pada awal November 1944, ia dieksekusi.

Penderitaan juga menimpa anak-anaknya. Emma, yang saat itu baru berusia 13 tahun, ikut ditangkap dan disiksa. Tanpa orang tua, keempat anak itu dirawat oleh seorang perawat tua bernama Elizabeth.

Nasib mereka kemudian semakin buruk. Pihak Jepang menjual mereka kepada seorang raja boneka di Tagulandang seharga 900 gulden. Di pulau itu, mereka hidup serba kekurangan, terserang penyakit tropis, dan menanggung trauma yang mendalam.

Pendaratan di Tagulandang

Richard Knox Hardwick, tentara intelijen yang terlibat dalam operasi Sekutu di Pasifik. (Foto: specialforcesroh.com)

Selama berbulan-bulan, Hardwick mengumpulkan kepingan informasi tentang keberadaan anak-anak itu. Yang ia ketahui hanyalah bahwa mereka telah meninggalkan Tahuna, tanpa kejelasan ke mana mereka dibawa.

Kesempatan datang pada 18 Maret. Hardwick bergabung dalam operasi pengintaian SRD ke Tagulandang. Rombongan berangkat dari Morotai dengan pesawat amfibi Catalina, dipimpin Mayor Trapps-Lomax, bersama perwira Belanda, personel Amerika, dan tujuh anggota SRD.

Saat mereka mendarat, pulau itu tampak damai. Pantai berpasir keemasan, kebun kelapa, dan lereng hijau yang ditumbuhi pohon pala. Namun di balik pemandangan itu, penduduk hidup dalam ketakutan di bawah pengawasan para kolaborator Jepang.

Dari keterangan warga, Hardwick akhirnya mendapat petunjuk: keempat anak itu berada di Desa Mananga, sekitar 10 kilometer dari titik pendaratan. Seorang penduduk diutus untuk menjemput mereka.

Berpacu dengan Serangan Jepang

Belum lama anak-anak itu tiba, kabar genting datang. Sekitar 100 tentara Jepang bersenjata senapan mesin dilaporkan bersiap menyerang dari Pulau Siau. Dengan kekuatan yang terbatas, rombongan Sekutu tidak mungkin bertahan. Sinyal segera dikirim ke pangkalan untuk meminta evakuasi udara.

Menjelang sore, dua pesawat Catalina mendarat di perairan Tagulandang. Keempat anak dan Elizabeth menjadi prioritas utama. Mereka diangkut bersama 29 penduduk yang selama ini membantu Sekutu.

Pantai berubah menjadi lautan haru. Ratusan warga memohon untuk ikut, sebagian mencengkeram pakaian para tentara karena takut akan pembalasan Jepang setelah pasukan Sekutu pergi. Kapasitas pesawat tidak memungkinkan semua orang diselamatkan.

Kedua pesawat lepas landas dengan muatan penuh. Salah satunya harus meluncur jauh di atas air sebelum berhasil mengudara. Malam itu, seluruh rombongan tiba dengan selamat di Morotai. The Straits Times mencatat operasi ini sebagai penyelamatan warga sipil pertama sejak jatuhnya Hindia Belanda pada 1942.

Beberapa jam setelah evakuasi, pasukan Jepang benar-benar mendarat di Tagulandang. Keesokan paginya, pesawat pengebom Angkatan Udara Australia (RAAF) mendapati tiga kapal layar bertiang dua dan sebuah kapal motor penuh tentara Jepang di perairan sekitar pulau. Menurut laporan resmi RAAF yang salinannya dimiliki Hardwick, sedikitnya 200 tentara berada di kapal-kapal tersebut. Pesawat pengebom menenggelamkan dan membakar kapal-kapal itu, lalu menembaki para penyintas yang berada di air.

Harapan yang Tak Terwujud

Di Morotai, keempat anak dirawat selama dua minggu hingga kondisi mereka berangsur pulih. Mereka kemudian diterbangkan ke Hollandia, lalu ke Australia. Palang Merah menanggung kebutuhan mereka, dan seorang misionaris Belanda mengasuh mereka.

Selama itu, anak-anak menyimpan satu harapan: bertemu kembali dengan ayah mereka. Harapan itu pupus. Laporan lanjutan yang diterima Hardwick menyebutkan dr. Cseszko tewas akibat serangan bom Sekutu menjelang akhir perang.

Kisah yang dicatat The Straits Times pada 1947 ini lebih dari sekadar laporan operasi militer. Ia merekam bagaimana perang menghancurkan sebuah keluarga di Sangihe, dan bagaimana empat anak berhasil diselamatkan dari tengah kekacauan, meski hidup mereka tak pernah kembali seperti semula.

Baca juga: https://sangirees.com/kisah-keluarga-dr-cseszko-menyelamatkan-rakyat-sangihe-berakhir-tragis-di-tangan-jepang/

Baca Artikel Lainnya

Konten Sangirees

Orang Sangihe

Kisah manusia Sangihe, pengalaman, perjuangan, identitas, prestasi dan perubahan

Lihat

Jejak Leluhur

Merekam sejarah, ingatan, tradisi, dan menerbitkan karya sastra Sangihe

Lihat

Berang Sangihe

Ruang berbahasa Sangihe untuk merawat Bahasa, cerita, dan cara pandang masyarakat.

Lihat

Catatan Perbatasan

Opini, gagasan dan refleksi tentang Sangihe untuk Indonesia

Lihat

Terpopuler

Orang Sangihe

Anyaman Bambu dari Para Dotu: Jejak Panjang Seke-Maneke di Kepulauan Sangihe

7
minutes read
Berang Sangihe

Tatahulending

1
minute read
Budaya

Alabadiri: Jejak Halberd Eropa, Dari Ternate Hingga Istana Tabukan

4
minutes read
Orang Sangihe

Kelana Tak Bersejarah dari Tanah Sangihe

5
minutes read