Setiap tanggal 31 Januari, masyarakat Kepulauan Sangihe menggelar Tuludẹ̆, upacara adat yang menjadi ungkapan syukur atas tahun yang telah dilalui sekaligus permohonan berkat untuk tahun yang baru. Upacara ini dilaksanakan bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kepulauan Sangihe dan diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-17.
Hingga kini belum diketahui secara pasti kapan Tuludẹ̆ pertama kali dilaksanakan. Dalam temu budaya pada Agustus 1994, C.Y. Harindah, salah satu pemateri, menyampaikan bahwa upacara ini diperkirakan mulai dilaksanakan di Kepulauan Sangihe pada abad ke-17. Meski usianya sudah ratusan tahun, tradisi ini tetap bertahan karena terus dilaksanakan setiap tahun.
Nama Tuludẹ̆ berasal dari dua kata dasar, yakni Suhudẹ̆ dan Luhudẹ̆. Kata Suhudẹ̆ sendiri bermakna menolak atau mendorong.
Menurut budayawan Niklas Mehare, makna tersebut berkaitan dengan tradisi leluhur Sangihe yang disebut mĕnondong lapasi. Setiap 31 Desember, masyarakat membuat lapasi, yaitu perahu kecil berbentuk londe dari kayu tatol᷊ang. Perahu itu dihias indah, diisi sesajian, lalu didorong ke laut lepas. Bersamaan dengan itu, diucapkan kata-kata adat yang secara simbolis meminta segala keburukan, penyakit, dan bencana tahun sebelumnya untuk naik ke perahu dan pergi untuk selamanya.
Keesokan harinya, tanggal 1 Januari, digelar pesta rakyat bernama mĕngungsị. Dalam perkembangannya, kedua acara tersebut digabung dan waktu pelaksanaannya digeser ke bulan Januari hingga Februari.
Sebelum mengenal kalender modern, para leluhur menentukan waktu upacara berdasarkan pengamatan bintang, yaitu saat bintang Kadadĕmahẹ̆ atau bintang fajar mencapai titik kulminasi. Kini pelaksanaannya ditetapkan setiap 31 Januari. Bagi masyarakat Sangihe, persoalan tanggal tidak menjadi hal mendasar. Yang terpenting adalah nilai yang terkandung di dalam upacara itu.
Dimulai dengan Tambur Pukul 04.30
Rangkaian Tuludẹ̆ diawali dengan Mĕsahune, yakni pemukulan tambur pada pukul 04.30 waktu setempat sebagai pemberitahuan bahwa upacara adat akan digelar hari itu. Di tingkat kabupaten, pemukulan dimulai dari halaman rumah pimpinan daerah, sedangkan di tingkat kecamatan dimulai dari rumah camat. Para penabuh berkeliling wilayah pelaksanaan, misalnya Kota Tahuna untuk tingkat kabupaten, lalu kembali ke titik awal. Selama perjalanan, tambur dipukul dengan 12 jenis pukulan yang diawali tengkelu kalonge.
Selanjutnya digelar Mĕnĕnsomahẹ̆ sake, yaitu penjemputan tamu secara adat. Setiap tamu dijemput oleh pasukan adat yang terdiri dari tua adat, pengucap sastra, penari salo, upasẹ̆, bengko, dan ransang sahabẹ̆. Tamu kemudian diantar masuk dan disuguhi sirih pinang dalam tradisi mĕnĕgong mamang.
Pada pukul 16.00, tambur kembali dibunyikan di lokasi upacara sebagai tanda dimulainya pentas kesenian. Pemukulan berlangsung hingga menjelang pukul 18.00.
Acara Puncak Tulude dan Kue Adat Tamo
Acara utama Tuludẹ̆ dibuka dengan Mĕgausẹ̆ sake atau mengundang tamu, disusul Mĕmanselẹ̆ sebagai penanda dimulainya upacara. Setelah itu, kue adat tamo dibawa masuk ke panggung utama dengan iringan penari salo dan upasẹ̆, lalu diterima secara adat.
Rangkaian berlanjut dengan Mengumbaede, sastra lisan yang berisi pokok-pokok pikiran yang melatarbelakangi pelaksanaan Tuludẹ̆. Kemudian dilakukan Mĕnahul᷊ĕnding. Secara harfiah, istilah ini berarti mendinginkan sesuatu yang dianggap panas. Namun maknanya adalah upaya menyembuhkan, memulihkan, dan menyucikan, menjauhkan masyarakat dari rintangan dan penyakit, serta memohon keselamatan bagi segala usaha di hari-hari mendatang melalui penyerahan hidup kepada Ghenggonalangi.
Bagian yang paling khas adalah Mĕnuwang Tamo atau pemotongan kue tamo. Pemotongnya harus seseorang yang mampu menghayati setiap kata yang diucapkan, karena tuturannya mengikuti urutan tertentu. Ia memulai dengan perhitungan waktu, sesuai kepercayaan masyarakat Sangihe dahulu bahwa pekerjaan seperti mendirikan rumah, menebang pohon untuk perahu, atau melaut harus memperhatikan hari, posisi bulan, dan pasang air laut. Selanjutnya ia menjelaskan pohon yang akan ditebang, siapa penanamnya, serta manfaat akar, batang, daun, dan buahnya. Ia juga menuturkan alat yang digunakan beserta pembuat dan asalnya, jalan yang dilalui, hingga cara mendekati dan menebang pohon. Dalam tuturan itu berlaku pantangan bahwa telur tidak boleh diambil sebelum pohon ditebang. Setelah selesai, kue tamo dan telurnya dibagikan kepada pejabat dan seluruh masyarakat.
Upacara kemudian ditutup dengan Mĕngungsị.
Ungkapan Syukur Masyarakat Religius
Tuludẹ̆ tidak dapat dilepaskan dari karakter masyarakat Sangihe yang religius. Mereka meyakini adanya kuasa yang lebih tinggi di luar diri manusia. Kepada kuasa itulah mereka memohon pemulihan alam dari bencana, kekuatan untuk mencari nafkah, dan ketenangan dalam menghadapi masa depan.
Karena itu, tujuan utama Tuludẹ̆ adalah memohon sekaligus mensyukuri pemeliharaan Ighĕnggonal᷊angị Duatang Sarul᷊uang, Tuhan Pencipta alam semesta, yang telah menyertai masyarakat melewati tahun sebelumnya dan memberkati langkah di tahun yang baru.
Ada empat makna yang terkandung dalam upacara ini. Pertama, syukur atas perlindungan Tuhan sepanjang tahun, disertai doa permohonan maaf atas kesalahan yang dilakukan. Kedua, syukur atas hasil panen dan berbagai berkat lainnya, yang diwujudkan melalui makan bersama. Ketiga, perwujudan persatuan, kesatuan, dan semangat gotong royong. Keempat, penyerahan kembali perjalanan di tahun baru ke dalam penyertaan Tuhan.
Lebih dari sekadar seremoni tahunan, Tuludẹ̆ menjadi pengingat bagi masyarakat Sangihe tentang jati diri mereka: bersyukur atas yang telah berlalu, berserah untuk yang akan datang, dan tetap berjalan bersama sebagai satu banua.




