Oleh: Pitres Sombowadile*
Pada abad pertengahan, Alabadiri adalah nama khusus bagi kelompok prajurit penjaga keamanan raja. Nama ini kemudian dikenal di lingkungan Kerajaan Tabukan, Kerajaan Tagulandang, Kerajaan Siau, Kerajaan Manganitu, dan Kerajaan Kolongan.
Sangat mungkin istilah ini pertama kali dikenal di Tagulandang dan Tabukan, diserap dari Maluku, tepatnya Ternate. Menurut uraian Residen Maluku F.S.A. de Clercq dalam Bijdragen tot de kennis der Residentie Ternate (1890), di Kerajaan atau Kesultanan Ternate prajurit khusus ini disebut albahdir. Sebutan itu merujuk pada empat prajurit berpakaian pelindung dari logam dan berhelm tembaga yang bergerak di depan pasukan Sultan Ternate pada upacara-upacara resmi kesultanan.
Bagi lidah orang Sangihe, setiap kata serapan akan diselaraskan dengan lafal bahasa Sangihe. Kata yang berakhir dengan konsonan biasanya diberi tambahan vokal di belakangnya. Penutur bahasa Sangihe dialek Pulau Sangihe lazim menambahkan bunyi “e”, sedangkan penambahan bunyi “i” biasa dilakukan penutur dialek Tagulandang.
Karena itu, sangat mungkin kata “alabadiri” pertama kali terbentuk di kawasan Nusa Utara melalui Tagulandang, lalu dipakai luas di seluruh kawasan Sangihe, Talaud, dan Sitaro. Ini masih berupa dugaan, sebab dokumen sejarah yang dapat memastikannya belum dimiliki.
Secara geografis, dari Ternate, Kerajaan Tagulandang jelas akan lebih dulu dijumpai dalam perjalanan garis lurus ke utara. Pada masa pemerintahan Sultan Ternate ke-7 (atau Kolano ke-25), Sultan Baabullah, bangsa Portugis berhasil diusir dari Benteng Gamalama pada tahun 1570. Amarah rakyat Ternate bangkit setelah kapten benteng Portugis, Lopez de Mesquita, memerintahkan pembunuhan Sultan Khairun di benteng tersebut.
Setelah berhasil mengusir Portugis, Sultan Baabullah merasa sangat kuat dan memperluas wilayah kesultanan ke utara dan selatan. Masa ini dikenal dengan kekuasaan Ternate atas 72 pulau, di antaranya kawasan Sangihe, Talaud, dan Sitaro, Sarangani, terus hingga Mindanao, bahkan sampai Kepulauan Marshall di Samudra Pasifik.
Proses pengislaman pun mulai dilakukan dari Ternate, meskipun sebelumnya Islam telah lebih dulu masuk ke Sangihe melalui Sulu dan Mindanao lewat kelompok lain (ahlulbait). Dalam catatan sejarah, Sangihe dan Tagulandang menjadi vazal Ternate, sedangkan Kerajaan Siau mengikat pakta perlindungan dengan Spanyol di Manila. Pada masa inilah berbagai pengaruh khas Ternate dapat dikatakan masuk ke Tagulandang dan Sangihe (Kerajaan Tabukan).
Meski kata “alabadiri” di kawasan Nusa Utara merupakan serapan dari Ternate, asal mula kata ini sebenarnya dari Eropa. Dalam bahasa Inggris dikenal “halberd” atau “halberdier”, dalam bahasa Prancis modern “hallebarde”, yang diturunkan dari bahasa Prancis kuno “alabarde”, yang diserap dari bahasa Italia kuno “alabarda”. Kata ini disebut berawal dari bahasa Jerman Tinggi Pertengahan “helmbarde”, bentukan dari “halmbarte”: “helm” berarti gagang, dan “barte” berasal dari kata bahasa Jerman Tinggi Kuno “barta” yang berarti kapak.
Kapaknya biasanya bermata dua, atau satu sisi berupa mata kapak dan sisi lainnya mata tombak, sementara ujung gagangnya runcing sehingga berfungsi juga sebagai tombak. Gagangnya dapat dilapisi logam agar bisa dipakai menangkis serangan pedang musuh. Jadi, kata asal Eropa ini aslinya menunjuk pada sebuah tongkat atau tombak yang sedikit lebih tinggi dari pembawanya, dengan kapak bermata dua di bagian bawah ujungnya, sedangkan ujungnya tetap berupa tombak runcing.
Dalam banyak dokumen, senjata ini disebut sebagai senjata khas Eropa pada abad ke-15 dan ke-16. Halberd sangat dikenal di Swiss karena pernah dipakai para petani negeri itu untuk membunuh Adipati Burgundia, peristiwa yang mengakhiri perang dengan orang-orang Burgundia. Halberdier adalah sebutan bagi prajurit yang memakai senjata halberd. Inilah yang menjadi acuan kata albahdir di Ternate dan alabadiri di Sangihe.
Terkait prajurit khusus ini, pada tahun 1962 diperkenalkan kepada publik sebuah tarian istana Tabukan yang menggambarkan para prajurit penjaga istana, yaitu Tari Alabadiri. Tarian ini seluruhnya dibawakan oleh laki-laki. Sebelumnya, tari ini hanya diperagakan di lingkungan istana, baik di Kerajaan Tabukan, Kerajaan Siau, maupun Kerajaan Kolongan. Barulah atas permintaan Bupati Harry Sutojo pada tahun 1961, tari ini secara adat diperbolehkan tampil di luar istana.
Kini tari ini dapat dijumpai di beberapa tempat di Sangihe dan Talaud, termasuk di Pulau Karakelang. Yang pasti, tarian ini ditampilkan setiap tahun dalam upacara adat Tulude yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, karena filosofinya berbicara tentang hubungan pemerintah dan rakyat.
Tari Alabadiri pertama kali ditampilkan di luar wilayah Sangihe dan Talaud dalam sebuah misi kesenian Kabupaten Sangihe Talaud ke luar daerah pada tahun 1962.
Beberapa raja Tabukan erat dikaitkan dengan pengembangan tarian ini di lingkungan istana, tetapi yang paling sering diacu adalah Raja Markus Jacobus Dalero (1718–1724). Meski demikian, dalam buku tim Misi Kesenian Daerah Tingkat II Sangihe-Talaud 1962, budayawan Sangihe D. Madonsa menguraikan bahwa tari ini sudah dimainkan sejak abad ke-15: di Tabukan pada zaman Raja Makaampo Wawengehe, di Siau pada zaman Raja Lokongbanua II, dan di Kerajaan Kolongan pada zaman Raja Pontorolage. Artinya, jauh sebelum masa Dalero, tokoh Tabukan abad ke-17 hingga ke-18.
Dalam buklet tim misi kesenian itu diuraikan bahwa Tari Alabadiri memakai sejumlah perlengkapan. Yang pertama adalah musik pengiring berupa tambor (bisa juga tagonggong) serta nyanyian pengiring.
Para penari membawa properti berikut:
(a) Kubalang, yaitu tongkat yang ujungnya berhias kembang putih berkelopak hijau, dengan patung seekor burung bertengger di atasnya. Kubalang melambangkan rakyat yang berhati suci murni dan tetap setia kepada pemerintah yang hidup dan matinya bersama rakyat.
(b) Kaliau, yaitu sejenis perisai sebagai lambang pertahanan nusa dan bangsa.
(c) Tokoting, yaitu alat yang melambangkan kesiagaan rakyat dalam berjaga-jaga menurut tempat dan waktu.
(d) Sondang, yaitu pisau sejenis rencong sebagai alat penuntut keadilan dan kebenaran.
(e) Sinsing, yaitu cincin sebagai simbol pengikat silaturahmi bangsa, yakni pengikat hubungan antara rakyat dan pemerintah.
Tarian ini ditampilkan dalam sepuluh bentuk gerakan yang memberi pelajaran tentang hubungan ideal antara pemerintah dan rakyat.
* Pitres Sombowadile adalah penyair, penulis, aktivis, jurnalis, dan budayawan Indonesia kelahiran Manado, lahir 28 Mei 1966. Ia lulusan sarjana teknik kelautan ITM Tomohon dan aktif dalam banyak kegiatan kebudayaan sejak 1991.
Catatan Redaksi: Tulisan ini telah disunting kembali oleh redaksi tanpa mengubah substansi sejarah yang disampaikan penulis.




